Pengaruh Pandemi Bagi Pendidikan

Pengaruh Pandemi Bagi Pendidikan

Bellas Restaurant –¬†Awal Maret lalu, Corona masuk ke Indonesia. Saat itu, seorang warga negara Jepang dikabarkan telah bertemu dengan seorang ibu yang berusia sekitar 61 tahun dan putranya yang berusia sekitar 31 tahun. Alhasil, pada 16 Maret 2020, di mana tepatnya semua SMA / sederajat di Indonesia dinyatakan lulus UN, mereka harus membatalkan studi dan menunggu selama 2 minggu. Akhirnya, PBB resmi dihapuskan karena Covid19. Bahkan sekarang, virus tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang.

Hingga kita ingin memasuki tahun Covid19 di Indonesia, semua aspek, bahkan pendidikan, hampir lumpuh. Sekolah ditutup sampai mereka akhirnya memutuskan untuk online untuk meminimalkan penularan virus. Semua orang di Indonesia lelah melakukan semuanya sendiri di rumah. Di rumah menatap mainan seumur hidup. Orang tua dilibatkan dalam pertukaran guru untuk anak-anaknya yang masih duduk di bangku PAUD / Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.

Pemerintah memperkenalkan berbagai program dan program buta aksara selama wabah Covid-19, seperti revisi Peraturan Bersama Menteri (JS) yang dikeluarkan pada 7 Agustus 2020, untuk menjalankan kurikulum. Moti. Selain itu, sekolah memiliki kemampuan untuk memilih mata kuliah yang sesuai dengan kebutuhan akademik siswanya pada saat terjadi ledakan, sebagaimana tertuang dalam Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Situasi Darurat.

Setelah semua sekolah ditutup dan #BelajarDariRumah, siswa akan memiliki kesempatan untuk menerapkan informasi ini kepada keluarga mereka. Bahkan hanya dengan membuka diskusi kecil atau belajar informasi yang tersedia dari keluarga. Hal ini berperan penting dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap sains melalui penerapan langsung. Informasi yang digunakan akan mempengaruhi secara langsung tidak hanya siapa yang menggunakannya, tetapi juga siapa yang menerimanya.

Menurut UNESCO, pandemi Covid-19 mengancam 5.77.305.660 siswa dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dan 86.034.287 siswa pendidikan tinggi di seluruh dunia. Indonesia telah menghentikan semua kegiatan pendidikan, serta kebijakan berbagai negara yang terkena penyakit Covid-19. Hal ini menjadikan pemerintah dan afiliasinya sebagai proses pendidikan alternatif bagi siswa melalui pembelajaran jarak jauh, pembelajaran online, atau pembelajaran berbasis rumah dengan bantuan orang tua.

Menerapkan pembelajaran jarak jauh dan kebijakan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran online bukan menjadi masalah bagi beberapa universitas yang sudah memiliki sistem akademik online. Ini menjadi masalah bagi beberapa universitas lain yang tidak memiliki sistem ini.

Di tingkat pendidikan dasar, menengah kemudian atas secara teknis proses pembelajaran jarak jauh juga banyak mengalami gangguan. Peserta didik dari keluarga yang tidak memiliki akses internet atau bahkan tidak memiliki handphone akan ingat pembelajaran ketika tugas belajar disampaikan melalui aplikasi WhatsApp atau yang lainnya. Menyikapi kondisi seperti itu, pihak sekolah memberikan bantuan, misalnya dengan memberikan tugas bentuk kertas kerja.

Selain itu dampak yang dirasakan oleh peserta didik dari belajar dari rumah adalah beban terlalu banyak. Ini adalah salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk mengubah atau mengingat informasi Anda. Meskipun diberikan ruang bertanya kepada guru melalui pesan aplikasi WhatsApp itu dirasakan tidak cukup waktu. Kemudian, belut mudah diamati oleh orang tua peserta didik, belajar mengajar dan rumah juga membuat peserta didik menjadi gampang bosan karena tidak bisa diandalkan bersama guru dan teman-teman.

Tak jarang ditemukan orang tua memberikan pendampingan belajar putra-putrinya dengan cara keras, mengancam, memaksakan kehendak, atau bahkan dengan memukul jika anak tidak menurut. Jika hal ini terjadi setiap hari maka ini akan menjadi momok bagi anak dalam belajar, meskipun tujuan orang tua baik dengan anak disiplin dan pandai. Pola asuh yang demikian akan membentuk anak menjadi penakut, pemalu, pendiam, gemar melanggar aturan, pendendam dan kurang memiliki inisiatif.

Oleh sebab itu orang tua harus berhati-hati dalam melakukan pendekatan selama mendampingi anak belajar di rumah. Orang tua dapat memperlakukan anak dengan kasih sayang, sabar, menerima anak apa adanya, tidak menghakimi, tidak memaksakan kehendak, memberikan kebebasan dan menghargai, serta toleransi putra-putrinya. Dengan demikian tidak akan ditemui momok pendidikan yang menakutkan akan menimbulkan suasana belajar yang menyenangkan selama belajar di rumah. Dilansir dari situs riverspace.org